Minggu, 10 Maret 2013

puisikuu


Bukan untuk sang bintang
Percik percik tergambar di pelupuk sang batu
Menggiring pecahan beling berkilau tanpa cahayanya
Meringis di musim dingin penuh butiran putih
Salju...salju..dan salju
Dia memang permata di bintangmu
Lampion kecil memang untuk chines
Serumpun tombak pejuang
Melempar tirai dabalik kegelapan

Bukan itu bintangmu]
Bukan itu perimu

Sergahan waktu datang saat pagi menyambar
Sergahan kuning menerpa sejumput butiran padi
Datang saat ia datang
Pergi saat ia pergi
Karena di bukan sang bintang
Karena dia bukan lah bintangmu

Lalu lalang dia pergi
Lalu lalang dia kembali
Menepis
Menjauh
Menghampiri
Karena di BUKAN BINTANGmu
Karena dia bukan PERImu
Karena dia Bukan sang Bintang

Rabu, 26 Desember 2012

Kajian Puisi "Cahayaku"


Cahayaku

Duduk tersandar aku selalu mengenangmu
Mendekapmu selalu ingin ku lakukan
Bagaikan pungguk yang merindukan bulan sudah tak terbendung
Ingin menyentuh senyum yang kau lukiskan

Dalam hidup akan selalu ada bayanganmu
Kekuatanku hatiku ada di setia belaian jiwa hangatmu
Saat aku rapuh kau menopangku dalam kilauan mentari di ufuk barat
Engkau tongkat emas menerangi jiwaku yang terangkai di dinding merah
Memberikan umbut penghantam sanubari kosong

Ayah............
Sering ku menangis pada dinding yang tak bertuan
Pada papan cermin yang mulai usang kering
Pada bingkai hati yang tak kunjung merayap

Tidak...tidak...tidak.
Aku masih tak bisa melepasmu
Terbang melayang menembus celah-celah sempit itu
Ingin berlari menembus lorong waktu
Mematahkan segala yang ada di hadapanku
Menghancurkan duri berdaging di jiwaku
Untuk menggenggam tanganmu lagi
Ayah.
Kajian Puisi “Cahayaku”
1.       Struktur Fisik
a.       Diksi
Duduk tersandar aku selalu mengenangmu
Mendekapmu selalu ingin ku lakukan
Bagaikan pungguk yang merindukan bulan sudah tak terbendung
Ingin menyentuh senyum yang kau lukiskan
Penyair puisi “Cahayaku” di atas telah memilih kata-kata dengan cermat sebab kata-kata yang ditulisnya harus dipertimbangkan makna yang sesuai dengan puisi diatas. Penggunaan diksi dalam puisi diatas yang tepat dan cermat orang (pembaca) akan langsung tahu apa yang sedang dihadapi oleh puisi tersebut setelah membaca kata-kata yang dibacanya adalah kata-kata yang tepat untuk sebuah puisi seperti pada  kalimat “Duduk tersandar aku selalu mengenangmu
Mendekapmu selalu ingin ku lakukan”. Pemilihan diksi yang tepat dan cermat hendaknya juga harus disadari bahwa kata-kata dalam puisi biasanya bersifat konotatif artinya mempunyai keindahan dan berbeda dari yang lainnya dalam penggunaan kata dan maknanya. “Bagaikan pungguk yang merindukan bulan sudah tak terbendung Ingin menyentuh senyum yang kau lukiskan” merupakan salah satu contoh yang bersifat konotatif karena bisa di gambarkan sebagai perumpamaan dan bisa juga suatu keinginan terbesar seorang penyair akan puisinya tersebut.
b.      Pengimajian
Melalui puisinya yang berjudul “CAHAYAKU” penyair mentransfer apa yang sedang dirasakan mealui pengalamannya kepada orang lain. Semua yang dirasakan oleh penyair ia ingin agar pembaca puisinya dapat juga merasakan hal yang sama. Penyair menggunakan pengimajian taktual karena hal itu seolah-olah pembaca dapat merasakan sentuhan dalam dirinya yang ingin dia kemukakan atau ungkapkan seperti dalam bait pertama larik ke 3 dan 4 yaitu:
Dalam hidup akan selalu ada bayanganmu
Kekuatanku hatiku ada di setia belaian jiwa hangatmu
Penyair memasukkan kalimat” Kekuatanku hatiku ada di setia belaian jiwa hangatmu” agar penyair tahu bahwa setiap kekuatan hanya akan bisa tergambarkan dengan sentuhan kehangatan dari seseorang yang kita sayangi dengan begitu pembaca akan tergugah menangkap apa yang diungkapkan oleh puisi tersebut.
c.       Kata Konkret
Kata konkret yang terdapat dalam puisi “Cahayaku” sebenarnya sangat sedikit yang digunakan oleh penyair karena kata-kata yang digunakan penyair hanyalah kata-kata yang mewakili perasaannya dalam menuliskan puisi ini. Perasaan yang menggambarkan bahwa segala yang terjadi dalam puisi “Cahayaku” bisa dirasakan juga oleh pembaca. Kata-kata konkret dalam puisi diatasa seperti “senyum yang kau lukiskan”, “jiwa hangatmu”, “kilauan mentari di ufuk barat”, dan “Aku masih tak bisa melepasmu”
d.      Bahasa Figuratif
Dalam pusi yang berjudul “Cahayaku” penyair menggunakan beberapa majas yang digunakan yaitu majas perbandingan pada kalimat “Bagaikan pungguk yang merindukan bulan”, alegori  dalam kalimat “Engkau tongkat emas”, dan majas hiperbola “Sering ku menangis pada dinding yang tak bertuan”. Kalimat Bagaikan pungguk yang merindukan bulan mewakili perasaan penyair dalam mengungkapkan kerinduan yang terdalam kepada seseorang. Kalimat Engkau tongkat emas adalah seseorang yang sangat berarti.
e.       Tipografi
Penyair dalam puisi “Cahayaku” hanya menggunakan tipografi umum dengan rata pada bagian baris kiri. Puisi  “Cahayaku” memilik 4 bait yang terdiri dari beberapa larik. Bait pertama dan ketiga penyair menggunakan 4 larik atau baris yang biasanya disebut quatrain. Pada bait kedua disebut quint karena menggunakan 5 larik atau baris dalam puisi “Cahayaku”. Sedangkan pada bait terakhir atau bait keempat penyair melakukan Stanza/ Okta karena dalam bait keempat ini terdapat 8 larik atau baris yang digunakannya.
f.        Versifikasi
Rima yang digunakan dalam puisi “Cahayaku” adalah rima yang sempurna digunakan karena dalam beberapa bait terdapat  pengulangan yang dilakukan penyair yaitu kata”Ku, jiwaku, dan menembus” digunakan dalam beberapa bait dalam puisi “Cahayaku”. Dalam puisi “Cahayaku”ritma yang digunakan oleh penyair yaitu bagaimana cara pembaca mewakili sikap penyair dalam membawakan puisi tersebut sesuai dengan yang tergambar dalam puisi “Cahayaku”. Seperti dalam bait ketiga cara penyampaian pesan yang dinginkan oleh penyair berbeda dengan cara penyampaian pada bait ketiga.
Ayah............
Sering ku menangis pada dinding yang tak bertuan
Pada papan cermin yang mulai usang kering
Pada bingkai hati yang tak kunjung merayap
Cara penyampaian atau pengungkapan dalam bait tersebut yaitu dengan suara yang lembut seperti seseorang yang sedang merintih karena suatu keinginan berbeda dengan larik dibawah ini yaitu
Tidak...tidak...tidak.
Aku masih tak bisa melepasmu
Ungkapan yang digunakan yaitu dengan suara keras karena penyair menginginkan kelepasan perasaan yang di alaminya terbawa oleh suasana batinnya.
2.     Struktur Batin
a.       Tema
Puisi “Cahayaku”bertema tentang kesedihan dan kerinduan seseorang yang telah ditinggalkan oleh orang yang paling ia cintai dalam hidupnya dan belum ikhlas melepaskan.
b.      Perasaan Penyair
Perasaan yang dialami penyair saat menulis puisi “Cahayaku” yaitu perasaaan sedih yang sangat mendalam. Tak ada rasa bahagia yang dialaminya setelah ditinggalkan.
c.       Nada dan Suasana
Nada dalam puisi “Cahayaku” adalah kesedihan, keikhlasan yang belum sempurna. Sedangkan suasana pada puisi tersebut adalah turut merasakan kesedihan yang telah terjadi dalam hidup ini.
d.      Amanat
Pesan yang ingin disampaikan dalam puisi “Cahayaku” yaitu bagamana kita dalam janganlah meratapi sebuah kesedihan setelah engkau telah ditingglkan oleh seseorang yang paling engkau cintai karena pada dasarnya pasti kita akan pergi dan meningglkan yang ada di muka bumi ini. Bersabarlah dan ikhlasakan apa yang telah terjadi karena dia tetap akan menjadi Cahaya dalam kehidupanmu dalam detik, waktu, hari, dan esok ini. Semuanya pasti akan berkilau ketika kau bisa menerima yang telah digariskannya.
3.      Struktug Global
Duduk tersandar aku selalu mengenangmu
Mendekapmu selalu ingin ku lakukan
Bagaikan pungguk yang merindukan bulan sudah tak terbendung
Ingin menyentuh senyum yang kau lukiskan
Pada bait pertama ini mengungkapkan tentang kesendirian penyair dalam kehidupan ini tanpa ada yang menemaninya. Perasaan batin yang bergejolak yang dirasakan oleh penyair karena hanya termenung dan duduk yang bisa dia lakukan dalam menjalani hidup. Keinginannya untuk merasakan hal yang sama dengan yang lalu ia inginkan namun hanya pengharapan kosong yang ia bisa dapatkan karena hal itu takkan bisa terjadi dan takkan mungkin kembali lagi.
Dalam hidup akan selalu ada bayanganmu
Kekuatanku hatiku ada di setia belaian jiwa hangatmu
Saat aku rapuh kau menopangku dalam kilauan mentari di ufuk barat
Engkau tongkat emas menerangi jiwaku yang terangkai di dinding merah
Memberikan umbut penghantam sanubari kosong
Pengungkapan peyair pada bait ini adalah sejauh manapun orang yang telah pergi meninggalkannya namun dia kan tetap menantikannya walau hanya dalam bayang-bayang semu atau impian yang tak mungkin terjadi. Penyair mengungkapkan bahwa orang yang telah pergi itu meninggalkan bekas yang mendalam bagi penyair karena seluruh nafas yang terhembus di setiap detak jantung penyair berasal dari kekuatan hidup seseorang tersebut. Setiap gerak gerik penyair hanya bisa dilakukan dengan semangat dan senyum yang terurai dari bibir mekar seseorang. Bagi penyair orang tersebut adalah segalahnya dalam kehisupannya, seseorang yang takkan bisa tergantikan walau apapun yang akan terjadi falam kehidupannya kelak.
Ayah............
Sering ku menangis pada dinding yang tak bertuan
Pada papan cermin yang mulai usang kering
Pada bingkai hati yang tak kunjung merayap
Bait ini menceritakan pengungkapan kesedihan yang mendalam penyair. Penyair tak bisa melakukan apapun kecuali hanya bisa meratapi dan menangis. Dia merasakan tak ada lagi kehidupan setelah dia ditinggalkan.
Tidak...tidak...tidak.
Aku masih tak bisa melepasmu
Terbang melayang menembus celah-celah sempit itu
Ingin berlari menembus lorong waktu
Mematahkan segala yang ada di hadapanku
Menghancurkan duri berdaging di jiwaku
Untuk menggenggam tanganmu lagi
Ayah.
Pengungkapan jiwa dan batin penyair dalam bait terakhir ini adalah ketidak ikhlasan penyair melepaskan orang yang dicintai dan disayangi pergi meninggalkannya. Ia ingin meraihnya kembali seberapapun rintangan yang menghalangi jalannya yang penting penyair bisa bersama kembali seperti dulu lagi dan takkan terpisahkan.



Rabu, 12 Desember 2012

Apresiasi Puisi


TERANG
Hidup makna menyelimuti setiap gumpalan dingin
Menyentuh yang indah dalam goresan keheningan
Mnghancurkan kehampaan yang tak tergantikan
Dalam gelap kedamaian
Ketika semua pergi memanggilmu
Berlarilah menyongsong gemericik belaiannya
Ketika warna mulai redup dari pandangan
Singsingkanlah awan hitam menyelimutinya
Ketika hangat nafas yang terhembus menghilang
Sadarlah dirimu telah di sana
Jadilah titik terang di dalam bayangan
Jadilah terang di tempat yang gelap
Jadilah terang bukan di tempat yang terang
Jadikanlah terang dalam mimpi khayalmu.

SERIGALA CINTA

Semboyang cinta datang melambaikan diri
Meronrong getaran batin dipipihan kalbu
Bergemuru bak senjata menerjang musuh
Curahan hujan dalam tetesan tawa
Pernak pernik kata kau tuturkan
Tak bergeming di bibir mekar merahmu
Hanyut menunglai di semilir angin
Istana raja singgahsanamu
Engkau bukan malaikat tanpa sentuhmu
Bukan pula bintang kilau tanpa redup
Bukan angin yang datang menghampiri kesejukannya
Bukan juga air yang mengalir tanpa halangan
Tapi kau.........
Tumpukan daging merah di tulang kuatmu
Panah runcing di hidup kelammu
Sampan kecil yang siap berlayar
Serigala cinta di hutan mangsamu.

Rabu, 28 November 2012

Tugas Apresiasi Puisi


TUGAS IV
APRESIASI PUISI INDONESIA

Nama                          : Andi Musliana
Kelas/Nim                   : B/105104059
Prodi                          : Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia

PERTANYAAN
Analisislah Puisi dari Amir Hamzah, Chairil Anwar, Taufik Ismail, W.S Rendra dan Puisi Anda sendiri. Carilah diksi (pilihan kata) yang digunakan serta ciri-cirinya!!!
JAWABAN
A.     Amir Hamzah
Beberapa puisi hasil karya Amir Hamazah
a.       Astana Rela
Puisi ini menceritakan tentang keikhlasan si aku tak dapat bertemu dengan kekasihnya didunia karena ia percaya mereka akan bersua di surga . Dalam puisi ini menggunakan pilihan kata seperti, bersua, tilikan, sempana, di mahkota astana gapura rela.
b.      Turun Kembali
Dalam sajak ini pengarang menyatakan bahwa manusia itu tidak bersatu dengan tuhan. Menurutnya manusia itu hamba, sedangkan tuhan itu penghulu, maharaja. Puisi ini menggunakan pilhan kata seperti, penghulu, maha raya, menaung dunia, melipur  meriang hati,
c.       Tetapi aku
puisi ini menceritakan bahwa si aku tiba-tiba sekejam ia ditemui tuhan, tetapi si aku tiada merasa,  tiada sadar akan hal itu, meskipun mutiara-jiwa si aku telah lama dicarinya. Dalam puisi ini pengarang menggunakan pilihan kata seperti, alit, guring, terhenti dawai pesawat diriku, mutiara jiwaku, gewang canggaingnya.
d.      Barangkali
Puisi menggunakan pilihan kata yang menandai suasana percintaan yang romantis sesuai dengan khayalan si aku tentang kekasihnya, seperti akasa swarga nipis-nipis,  kudaduhkan di selendang dendang, siuman dewi-nyanyi, gambuh asmara lurus lampai.

Analisis Persamaan Keempat Hasil Karya Amir Hamzah

1.        Dari keempat puisi karya Amir Hamzah terdapat persamaan yang signifikan, dimana pengarang yakni Si aku didalam puisinya selalu memceritakan dirinya dengan kekasihnya (tuhan). Bagaimana dia sangat mencinta kekasihnya, bagaimana si aku tetap setia meski dia tak dapat lagi bertemu dengan kekasihnya itu. Dan bagaimana pertemuan dengan kekasihnya.
2.       Keempat puisi ini juga memberikan pesan yang hampir semuanya memiliki makna yang sama, yakni manusia adalah makhluk yang diciptkan bukan untuk bersanding dengan tuhan tapi manusia justru harus percaya, dan mengjungjung tinggi tuhannya.

B.      Taufik Ismail
Beberapa puisi hasil karya Taufik Ismail
a.       Karangan Bunga
Puisi ini membicarakan peristiwa demonstrasi mahasiswa pada tahu 1966 menentang orde lama. Dalam puisi ini menggunakan pilihan kata, seperti tiga anak kecil, pita hitam pada karangan bunga.
b.      Lonceng Tinju
Puisi ini menggambarkan peristiwa mengenai olahraga tinju di indonesia. Dalam puisi ini menggunakan pilihan kata seperti, mereka bangkit, setiap teriakn histeriah, bergemuruh suaranya, jangan kamu mengadu ayam, jangan mengadu hewan, aku kelu, dan merasa diri di pojok, sendirian, kini lagi, bel itu berkleneng.
c.       Membacaa Tanda-tanda
Puisi ini banyak menyindir manusia sebagai khalifah dibumi yang masih saja merusak alam, dsb. Sehinga menyebabkan alam mulai kehilangan keindahannya. Pemilihan kata yang digunakan dalam puisi  ini umumnya memakai kata-kata yang lumrah seperti, kehilangan, udara, danau, burung, hutan, gunung, dll.
d.      Kerendahan Hati
Puisi ini menceritakan tentang pengarang yang sadar tentang apa yang telah terjadi didepan matanya. Dalam puisi ini menggunakan pilihan kata, seperti jika engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit maka jadilah belukar yang baik yang tumbuh di tepi danau.

Analisis Persamaan Keempat Hasil Karya Taufik Ismail
1.        Dari keempat puisi karya Taufik Ismail ini terdapat kesamaan, dimana pengarang membahas tentang politik sosial, kebudayaan, dan sikap pemberani.

C.     Chairil Anwar
Beberapa puisi hasil Karya Chairil Anwar
a.       Hampa
Puisi ini mengunakan pilihan kata seperti, sepi (pada) kalimat “sepi diluar menekan mendesak”
b.      Aku
Puisi ini menggambarkan tentang si aku yang harus memiliki rasa tanggung jawab untuk dirinya sendiri. Puisi ini menggunakan pilihan kata seperti, “ku mau, aku tetap meradang”, “aku mau hidup seribu tahun lagi”.
c.       Selamat Tinggal
Sajak ini merupakan penggalian masalah pribadi dan kesadaran kepada kejelekan dan kekurangan diri manusia sebagai pribadi. Puisi ini menggunakan pilihan kata seperti, muka penuh luka, kudengar suara merdu, angin lalu, tengah malam buta,
d.      Doa
Dalam sajak ini pengarang menyatakan pengertian itu dengan cara yang tidak langsung. Puisi ini menggunakan pemilihan kata seperti, keraguan, kepercayaan. Kelam, dan sunyi.

Analisis persamaan Keempat Hasil Karya Chairil Anwar
1.        Keempat puisi ini memiliki persamaan yang menceritakan tentang si aku yang tak pernah mempercayai adanya tuhan, si aku selalu berkata apakah dia membutuhkan sosok itu, tapi disaat si sku benar-benar dalam keterpurukan adan kesaadran tersendiri bahwa memng tuhan itu ada, dan hanya padanya dia meminta pertolongan.

D.    W.S. Rendra
a.       Sajak Burung-burung Kondor
Puisi ini merupakan luapan emosi dari pengarang yang bersifat keras karena rasa ketidakadilan yang dialami petani dan  buruh yang telah berjuang mengelola sawahnya namun yang menikmati hasilnya adala para petinggi-petinggi  yang tidak memperdulikan rakyat. Puisi ini menggunakan pilihan seperti, Burung-burung Kondor,  yang tercampak diatas tanah gembur,  tuan tanah yang mempunyai istana indah, cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa, dari parit-parit wajah rakyat, berjuta-jutan burung kondor mencakar batu-batu.
b.      Tobat
Puisi yang menggambarkan permohon ampunan atas segala hal yang telah dilakukan kepada tuhannya. Puisi ini menggunakan pilihan kata seperti, “aku tobat, ya Tuhankku, tobatt atas sebala dosaku”,  “jantungku adalah biji kentang  digigit oleh tanah, subur dan menderita digigit oleh tanah”,.
c.       Doa Serdadu Sebelum Perang
Puisi ini menceritakan tentang permohonan ampunan atas dosanya karena sudah mebnunuh orang yang bersalah maupun tidak bersalah. Puisi ini menggunakan pemilihan kata yang mat lembut seperti, “ Tuhanku, wajahmu membayang di kota terbakar “firmanmu terguris di atas ribuan kuburan yang dangkal”, dosa dan nafsu adalah satu udara, malam dan wajahku adalah satu warna.
d.      Mama
Puisi mengambarkan seorang anak laki yang memberitahukan ibunya bahwa ia telah menemukan jodohnya. Puisi menggunakan pilihan kata seperti,  burung dara janttan yang nakal, sejak dulu kau piara.

Analisis Persamaan dari Keempat Karya Puisi W.S Rendra
1.        Dari keempat puisi ini hanya ada dua puisi yang memiliki persamaan yakni sajak yang berjudul “Tobat” dan “Doa Serdadu Sebelum Perang”. Hal ini di karenakan dari kedua puisi tersebut memiliki makna  yang sama yakni Si aku memohon pengampunan atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.
E.      Diri Sendiri
a.       Ayah
Puisi ini menceritakan tentang kerinduan seorang anak kepada ayah yang telah pergi meninggalkan dunia ini untuk selama lamanya. Dalam puisi ini penulis menggunakan kata-kata lukiskan, menopangku, tongkat emas, bingkai hati.
b.      Sahabat
Puisi ini meceritakan tentang arti seorang sahabat bagi penulis. Penulis merasa bahwa tanpa adanya seorang sahabat hidup akan terasa hampa. Sahabat bukanlah segala - galanya namun, sahabat takkan menjadi yang campaan buat penulis. Puisi ini menggambarkan keinginan penulis dalam mempertahankan persahabatan yang telah dibinanya. Dalam puisi ini terdapat kata-kata yang penulis gunakan seperti remuk, rumah kedua, lelehan rumput, menghidupi jutaan plakton.
c.       Senyum Telaga Air Mata
Puisi ini menceritakan kesedihan penulis menghadapi hidup di dunia ini namun dia tetap berusaha tersenyum dalam lingkaran derita yang tak kunjung hilang dalam hidupnya. Senyum yang terus mekar dibibirnya namun penuh dengan kesedihan yang mendalam. Dalam puisi ini terdapat kata-kata yang penulis gunakan seperti  dusta nirwna ,menghapus di lekukan wajahku, dan menabur.
d.      Termenung
Puisi ini menggambarkan kesendirian seorang penulis dalam hidup ini dan tak pernah ada yang bisa mengerti apa yang sebenarnya dia inginkan. Semua hanya kebohongan yang ia rasakan yang hanya bisa digambarkan dalam kebohongan semu. Dalam puisi ini terdapat kata goresan tinta, kobaran api, relung nadi, dan dawai kebisuan.

 Analisis Persamaan dari Keempat Karya Puisi Diri Sendiri

Dari keempat puisi terdapat tiga puisi yang memiliki persamaan yakni sajak yang berjudul “Ayah” , “Termenung”, dan “Senyum Telaga Air Mata” namun, puisi keempat yaitu “Sahabat” saling berkaitan dengan ketiga puisi tersebut.Hal ini di karenakan dari ketiga  puisi tersebut memiliki makna  yang sama yakni kesendirian seorang penyair dalam menjalankan hidup di dunia yang penuh fana ini di sertai kebohongan yang muncul ketika ditinggalkan oleh sang ayah tercinta. Namun keterkaitannya dengan puisi “Sahabat” yaitu karena kesendiriannyalah dia mengharapkan seorang sahabat yang bisa mengerti apa yang ia inginkan dan bisa sebagai sandaran hidup detelah kepergian orang yang paling dicintainya.